Lidah Pemimpin

October 6, 2006

Sebab diam tidak selalu berarti emas,
maka berbicara bisa berarti berlian.
Salah satu cerita rakyat yang terkenal di Sumatera Selatan adalah tentang Si Pahit Lidah. Konon ia adalah anak sulung dari tiga bersaudara keturunan seorang raja Hindustan. Kalau ia memanggil “sesuatu” [orang atau binatang] dan tidak memperoleh tanggapan sesuai keinginannya, maka ia akan berkata “Jadi batu kau”, dan jadilah “sesuatu” itu batu. Mungkin itu sebabnya ia dikenal sebagai Si Pahit Lidah. Ketika ia wafat, diketahui bahwa lidahnya berwarna hitam dan mengandung racun yang mematikan.
“Kualitas diri seseorang bisa diukur dari kemampuannya menjaga lidah. Orang-orang beriman tentu akan berhati-hati dalam menggunakan lidahnya,” kata KH Abdullah Gymnastiar, mubaligh muda dari Bandung yang, antara lain, dikenal sebagai penggagas konsep Manajemen Qalbu [2001]. Lalu dikutipnya ayat suci yang berbunyi, “Wahai orang-orang beriman takutlah kalian pada Allah dan berkata-katalah dengan kata-kata yang benar” [QS Al-Ahzab:70], dan sabda Nabi Muhammad saw, “Siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam” [HR Bukhari-Muslim]. Dengan cara itu Aa Gym, panggilan akrabnya, menegaskan bahwa “lidah adalah amanah”.
Ketika berbicara tentang lidah, seorang pendeta Kristen mengutip ayat Alkitab yang berbunyi, “Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang yang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.” [Yakobus 3:2]. Bagai seekor kuda yang dapat dikendalikan dengan kekang dimulutnya, atau bagai kemudi yang kecil mengendalikan sebuah kapal besar, demikianlah mereka yang mampu mengendalikan lidahnya, akan dapat menguasai dirinya dalam berbagai situasi.
Baik cerita rakyat maupun kutipan ayat-ayat suci agama Islam dan Kristen di atas menegaskan bahwa kekuatan lidah adalah kekuatan kata-kata yang diucapkan, yang keluar dari mulut kita ketika berbicara. Kekuatan ini begitu dahsyat, sehingga bisa “membakar” orang banyak untuk bertindak, melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Coba saya simak rekaman kaset pidato-pidato Bung Karno yang tajam dan memukau audiens pendengarnya selama beberapa dekade. Begitu fasihnya ia menggunakan kekuatan kata-kata, mengelola the power of speech, sehingga tak ada yang membantah ketika ia menyebut dirinya sebagai “Penyambung Lidah Rakyat”. Bahkan sampai hari-hari ini “kekuatan lidah” Bung Karno masih sulit dicarikan tandingannya, tidak saja di Indonesia, tetapi juga dalam skala global-internasional.
Menyoal kekuatan lidah dalam konteks kepemimpinan boleh jadi akan membuat kita merindukan kehadiran seorang pemimpin yang mampu mengelola the power of speech untuk mengumandangkan suara batin kita yang dibungkam berbagai persoalan hidup sehari-hari. Kita memiliki sejumlah pemimpin yang fasih berbicara, sarat dengan pengetahuan dan informasi, memang. Masalahnya, apa yang mereka bicarakan dan cara mereka berbicara tidak nyambung dengan hati kita. Ketika mereka berbicara, sebagian besar kita merasa justru tidak terwakili, sekali pun sebagian dari mereka itu duduk di Dewan Perwakilan Rakyat, atau bahkan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Mereka berbicara tentang dirinya, partainya, golongannya, kelompoknya, tapi bukan tentang “kita”. Makin banyak mereka bicara, makin jauh terasa jarak antara “kita” dengan “mereka”.
Lebih celaka lagi, sebagian pemimpin yang duduk di DPR khususnya, justru menjadi “bisu” dan “tertidur lelap” di bangku empuknya. Mereka tertidur saat mengikuti sidang-sidang yang membahas persoalan-persoalan bangsa, bahkan cukup banyak yang mangkir secara reguler dan hanya muncul untuk menandatangani slip gaji bulanan. Sebagaimana dikutip Daniel Dhakidae dalam buku Wajah Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Pemilihan Umum 1999 [Kompas, 2000, hlm.xxiv], penelitian di tahun 2000 menunjukkan bahwa sekitar 34 persen [170-an orang] anggota DPR tidak pernah hadir, apalagi bicara, dalam sidang-sidang parlemen. Mereka ini agaknya tak memiliki kesadaran sedikit pun bahwa mereka dibayar oleh rakyat untuk bicara, untuk menggunakan “lidahnya” [bukan berbicara dengan “tangan/baku pukul” seperti yang didemontrasikan saat Sidang Istimewa MPR tahun 2001 silam].
Mungkin benar keprihatinan yang dinyatakan oleh sejumlah budayawan negeri ini. Kita memiliki terlalu banyak pemangku jabatan di tingkat elite yang terjebak pada dua situasi ekstrem. Pertama, mereka yang terlalu cepat bicara [too fast]; dan kedua, mereka yang terlalu terlambat bicara [too late]. Pada kelompok yang pertama, kita sering bingung dengan apa yang dibicarakannya karena permasalahan yang di angkat ke permukaan masih belum cukup data dan faktanya. Pada kelompok yang kedua, kita juga dibingungkan apa lagi yang harus dipertimbangkan untuk dapat menentukan sikap dan pendirian yang bersangkutan. Jadi, dua-duanya hanya membuat kita, warga negara biasa, kebingungan dan merasa tidak terwakili.
Kapankah waktu yang tepat bagi pemimpin untuk bersuara, menggunakan the power of speech-nya? Ini pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Namun setidaknya kita bisa belajar dari nasihat-nasihat orang bijak yang tersebar dalam bentuk pepatah, kata hikmat atau kata mutiara, bahkan ayat-ayat dalam kitab suci agama-agama. Sebagaimana dikutip pada bagian awal tulisan ini, seorang pemimpin diharapkan untuk benar-benar mengendalikan “lidah”-nya. Ia diharapkan untuk tidak berbicara saat emosinya dalam keadaan tak terkendali. Ia diharapkan tidak asal bicara tanpa ada kejelasan mengenai data dan fakta. Ia tidak diharapkan bicara saat publik meminta dirinya untuk lebih banyak bertindak. Ia diharapkan tidak berbicara saat ia seharusnya mendengarkan. Ia diharapkan tidak bicara kalau kata-katanya hanya akan menghasilkan perdebatan yang tidak perlu. Ia diharapkan tidak bicara soal masalah-masalah diluar bidang kompetensi dan tugas utamanya. Ia diharapkan tidak berbicara jika kata-katanya bukan lagi bersifat “mengingatkan”, tetapi sudah mengarah pada “mengutuk” sesuatu yang belum pantas untuk dikutuk. Ia diharapkan tidak berbicara jika yang akan dikatakannya lebih merupakan pengulangan-pengulangan yang tidak perlu [klise, sloganistik, dsb]. Dan yang paling diharapkan mungkin adalah ia tidak berbicara tentang sesuatu yang patut diduga merupakan dusta, kebohongan yang memelintir makna sesungguhnya
Sebaliknya juga benar. Pemimpin tidak boleh diam membisu ketika semua fakta telah relatif gamblang bagi khalayak ramai [konstituennya]. Ia tidak diharapkan diam ketika berbagai wacana telah berkembang sedemikian rupa ke arah yang kontra-produktif. Ia tidak diharapkan diam ketika diam itu tidak lagi dipersepsi sebagai “emas”, tetapi sebagai “kebodohan” atau ketidakpekaan terhadap permasalahan yang berkembang [telat mikir]. Ia tidak diharapkan diam ketika diam dapat dipersepsi sebagai tanda persetujuan akan hal yang tidak mungkin boleh disetujuinya.
Sekali lagi harus kita akui bahwa dalam konteks kepemimpinan, soal waktu bicara dan waktu diam mungkin sama peliknya dengan memilih apa yang harus dikatakan dan bagaimana cara mengatakannya. Ini memerlukan kemampuan membaca “teks” [realitas] sesuai dengan “konteks” [situasi dan kondisi tertentu] agar dapat diinterpretasikan maknanya secara relatif benar, tidak bias. Ini memerlukan kepekaan nurani dan kecerdasan budi dalam memilih kata dan mengutarakannya. Ini memerlukan kematangan pribadi dan karakter terpuji serta seni komunikasi. Singkatnya, ini memerlukan aktualisasi seluruh potensi kemanusiaan sang pemimpin.
Mungkin benar ilustrasi yang dipergunakan Aa Gym ketika ia mengatakan bahwa, “Mulut manusia itu seperti moncong teko. Moncong teko hanya mengeluarkan isi teko. Kalau ingin tahu isi teko, cukup dilihat dari apa yang keluar dari moncong itu. Begitu pun jika kita ingin mengetahui kualitas diri seseorang, lihat saja dari apa yang sering keluar dari mulutnya”. Ilustrasi ini sederhana, namun sangat mengena. Hati nurani yang bersih dan akal budi yang tajam sering terungkap dari kata-kata [juga tindakan] seseorang. Akan tetapi juga dapat dikatakan bahwa kata-kata yang sembrono, asal bunyi, kasar, dan menyakitkan hati pendengar, mencerminkan kemungkinan hati nurani yang terpolusi dan akal budi yang yang tak terasah baik.
Republik yang sedang porak poranda ini memerlukan pemimpin yang mampu mengendalikan lidah-nya. Pemimpin yang melek mata hati dan mata budinya. Pemimpin yang tidak asal bicara, namun tak selalu diam membatu. Dimanakah mereka?

KEMBALINYA NICOLAS ANELKA

October 6, 2006

Hello world!

October 6, 2006

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!